[The AsiaN Video for Indonesian] Penyetelan Kembali Hubungan Dengan Jepang

Halo! Saya Meidyana Rayana dari Indonesia. Berikut adalah ulasan Korea Times mengenai sengketa Korea dan Jepang.

Protes anti- Korea Jepang, walaupun protes ini terutama didukung oleh grup sayap kanan, namun telah menjadi terlalu jauh dengan menghina dan menginjak-injak bendera Korea Selatan.  Kebanyakan masyarakat Jepang tidak menuembunyikan ketidaksukaan mereka terhadap negara yang dahulu dijajahnya.

Presiden Korea Lee Myung Bak tampak menfasilitasi Jepang dengan waktu dan alasan-alasan. Kunjungannya ke pulau Dokdo diikuti oleh komentar Jepnag dan pengaruh yang memudar serta panggilan untuk permintaan maaf oleh Raja Jepang merupakan tamparan bagi harga diri Jepang.

Namun tetap, apa yang masyarakat Korea nilai sebagai reaksi berlebihan dari Jepang sulit untuk dimengerti, terutama dibandingkan dengan pendekatan yang dilkakukna Tokyo terhadap isu yang sama dengan China

Alasan lainnya dengan mudah dapat ditemukan, kecuali tentu saja Presiden Lee memiliki kalkulasi strategi yang kurang, dan jarak antara kekuatan Korea dan China atau Rusia. Dari semua itu, mempertimbangkan Korea telah memelihara kontrol efektif terhadap Dokdo, seperti yang dilakukan Jepang terhadap pulau Senkaku. Namun yang menjadi Pekerjaan Rumah disiini adalah masalah Jepang menyalurkan amarahnya kepada pihak ketiga.

Kesimpulannya adalah Jepang telah lama menantikan kesempatan untuk mengubah kebijakannya dari Defensif ke Ofensif. Dan dalam hal ini Jepang mungkin berterima kasih kepada pemimpin Korea. Perlu diingat bahwa Perdana Menteri Yoshihiko Noda, mengklain Jepang telah menyelesaikan kompensasi untuk mantan budak seks dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal. Mengatakan bahwa permintaan apa pun lagi dari Korea akan menyakiti perasaan “bertanggung-jawab” masyarakat Jepang.

Noda mengutip masyarakat Jepang dalam membuat klain yang menyatakan Jepang tidak lagi merasa berhutang terhadap Korea.

Kami tidak merasa bahwa para pemimpin Jepang mewakili seluruh masyarakat Jepang. Namun apabila ada yang berpikir seperti itu, mungkin disebabkan oleh ketidaksempurnaan dan ketidaktuntasan serta ketidak adilan penyesuaian Jepan dalam hubungan multilateral dan bilateralnya setelah Perang Dunia II.

Berita menarik lainnya dapat anda baca di situs The AsiaN di theasian.asia

Terima Kasih

news@theasian.asia

Search in Site